3 MAKSIAT YANG MEMBINASAKAN
Imam Al-Ghazali secara spesifik memperingatkan tentang tiga maksiat hati utama yang justru paling banyak menjangkiti orang-orang yang merasa paham agama di zaman ini. Ketiga penyakit ini dikategorikan sebagai hal-hal yang membinasakan (Al-Muhlikat) dan merupakan induk dari segala keburukan lainnya, yaitu:
1. Hasad (Dengki) Hasad adalah bentuk sifat pelit yang paling buruk, karena sang pendengki bersikap pelit terhadap nikmat dan perbendaharaan kekuasaan Allah yang diberikan kepada hamba lain.
- Puncak Keburukan: Seseorang disebut pendengki apabila hatinya merasa sesak dan susah melihat nikmat Allah turun kepada orang lain, bahkan sampai berharap nikmat tersebut lenyap, meskipun nikmat itu tidak berpindah kepadanya.
- Siksaan Batin: Pendengki adalah orang yang selalu tersiksa di dunia tanpa henti, sebab dunia tidak akan pernah sepi dari orang-orang yang diberi karunia oleh Allah. Terlebih lagi, hasad akan menghabiskan amal kebaikan layaknya api melahap habis kayu bakar.
2. Riya’ (Pamer) Riya’ disebut sebagai Syirik Khafi (syirik yang samar) di mana seseorang beramal untuk mencari kedudukan, kemuliaan, dan kehormatan di hati manusia.
- Penggugur Pahala: Penyakit cinta kedudukan inilah yang paling banyak membinasakan manusia dan menghapus seluruh pahala amal perbuatan.
- Tragedi Ahli Ibadah: Bahkan, orang-orang hebat seperti mereka yang gugur syahid, orang yang berilmu, hingga pembaca Al-Qur’an sekalipun akan diperintahkan untuk diseret ke neraka apabila niat ibadah mereka semasa hidup hanya agar disebut sebagai pahlawan atau orang alim oleh manusia.
3. ‘Ujub, Kibr, dan Fakhr (Bangga Diri dan Sombong) Ini adalah penyakit amat kronis di mana seorang hamba memandang dirinya sendiri dengan kacamata kemuliaan, namun memandang orang lain dengan pandangan meremehkan dan menghina.
- Warisan Iblis: Hasil dari penyakit ini adalah lisan yang selalu mengagungkan diri sendiri (“Aku dan aku”), persis seperti Iblis yang merasa dirinya lebih baik dari Nabi Adam karena diciptakan dari api. Di dalam majelis, orang sombong akan selalu memburu posisi terdepan dan menolak jika ucapannya dibantah.
- Kebodohan Murni: Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa menganggap diri lebih baik dari orang lain adalah kemurnian sebuah kebodohan.
Dampak Maksiat Hati: Amal Tertolak di Tujuh Pintu Langit Maksiat hati membuat ibadah fisik menjadi sia-sia. Dalam hadits agung yang diriwayatkan oleh Mu’adz bin Jabal r.a., dikisahkan bahwa malaikat pencatat amal akan membawa naik ibadah hamba yang bersinar terang seperti matahari. Namun, amal tersebut akan ditolak mentah-mentah dan dipukulkan kembali ke wajah pelakunya di berbagai pos penjagaan pintu langit jika hatinya terjangkiti maksiat. Misalnya, amal ditolak di langit pertama karena dosa ghibah, di langit kedua karena niat mencari harta dunia (fakhr), di langit ketiga karena sombong (kibr), di langit keempat karena bangga diri (‘ujub), hingga di langit kelima karena dengki (hasad). Bahkan jika amal tersebut lolos hingga ke hadapan Allah, Allah akan tetap melaknat hamba tersebut jika hati sanubarinya tidak murni merindukan-Nya.
Solusi dan Penawar Maksiat Hati Sebagai obat untuk mencabut kesombongan, kita diwajibkan memiliki mindset tawadhu’: jangan pernah memandang orang lain kecuali meyakini bahwa mereka lebih baik dari kita. Kita harus merendahkan diri saat melihat anak kecil (karena mereka belum berdosa), saat melihat orang tua (karena mereka beribadah lebih dulu), hingga saat melihat orang kafir sekalipun (karena bisa jadi ia masuk Islam di akhir hayatnya, sementara kita malah disesatkan).
Kunci utama untuk membersihkan hati adalah kesadaran bahwa kemuliaan sejati bergantung pada khatimah (akhir hayat) di akhirat kelak, yang saat ini masih menjadi misteri gaib. Rasa takut akan su’ul khatimah (akhir hidup yang buruk) inilah yang akan mencegah kita dari bersikap sombong kepada sesama makhluk Allah.