BEBAN BERAT SEBUAH GELAR DAN KARYA: KETIKA ILMU MELAHIRKAN KETAWADHUAN ATAU KESOMBONGAN

22 April 2026 3 menit baca Tak Berkategori

BEBAN BERAT SEBUAH GELAR DAN KARYA: KETIKA ILMU MELAHIRKAN KETAWADHUAN ATAU KESOMBONGAN 📚💔🥀

Saudaraku, mari kita renungkan sejenak kutipan yang sangat menampar ini. Di tengah semaraknya dunia akademik, majelis taklim, dan berbagai institusi pendidikan hari ini, kita sering kali diuji dengan kemasan luar dari sebuah keilmuan.

Terkadang, saat kita sibuk menyusun kurikulum, merancang modul pembelajaran, atau menulis sebuah buku, niat awal yang suci bisa bergeser tanpa terasa. Yang awalnya murni untuk membangun karakter dan peradaban umat, perlahan berubah menjadi keinginan untuk diakui kepakarannya, mengejar jabatan, atau sekadar ingin dipuji di mimbar-mimbar pengajaran.

📌 Imam Adz-Dzahabi rahimahullah menukil sebuah diagnosis yang sangat tajam dari para ulama tentang penyakit kronis para penuntut ilmu dan pengajar:

فَمَنْ طَلَبَ العِلْمَ لِلْعَمَلِ كَسَرَهُ العِلْمُ، وَبَكَى عَلَى نَفْسِهِ، وَمَنْ طَلَبَ العِلْمَ لِلْمَدَارِسِ وَالإِفْتَاءِ وَالْفَخْرِ وَالرِّيَاءِ، تَحَامَقَ، وَاخْتَالَ، وَازْدَرَى بِالنَّاسِ، وَأَهْلَكَهُ العُجْبُ، وَمَقَتَتْهُ الأَنْفُسُ

“Maka barangsiapa menuntut ilmu untuk diamalkan, niscaya ilmu itu akan membuatnya rendah hati dan ia akan menangisi dirinya sendiri. Dan barangsiapa menuntut ilmu untuk tujuan mengajar, berfatwa, kebanggaan, dan riya’, maka ia akan bersikap seperti orang dungu, sombong, merendahkan manusia, dibinasakan oleh rasa ujub, serta dibenci manusia.” (Siyar A’lam An-Nubala: 18/192)

3 Hantaman Dalil tentang Bahaya Niat dalam Menuntut dan Mengajarkan Ilmu:

  • 1. Al-Qur’an: Hakikat Ilmu Adalah Rasa Takut (Khasyyah) Gelar yang mentereng dan tumpukan karya tulis bukanlah ukuran sejati dari sebuah ilmu. Ukuran ilmu dalam Al-Qur’an hanyalah satu: Seberapa besar rasa takutnya kepada Allah. Allah ﷻ berfirman:إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama (orang-orang yang berilmu).” (QS. Fatir: 28). Orang yang ilmunya benar, ketika ia membaca sebuah ayat atau menyusun sebuah materi agama, ia akan menangis terlebih dahulu karena takut dirinya belum mampu mengamalkannya.
  • 2. Sunnah: Ancaman Terhalang dari Bau Surga Rasulullah ﷺ memberikan peringatan yang sangat mengerikan bagi mereka yang menjadikan ilmu agama, mimbar pendidikan, atau sertifikasi keilmuan sekadar sebagai batu loncatan menuju kemegahan dunia. Beliau bersabda:مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا، لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Barangsiapa menuntut ilmu yang seharusnya ditujukan untuk mencari Wajah Allah ‘Azza wa Jalla, namun ia tidak menuntutnya melainkan hanya untuk mendapatkan secuil keuntungan dunia, maka ia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud no. 3664, dishahihkan oleh Al-Albani).
  • 3. Pemahaman Salaf: Ilmu yang Memanggil Amal Ulama besar pendiri mazhab, Imam Asy-Syafi’i rahimahullah, memberikan parameter yang sangat jelas tentang keberkahan ilmu:الْعِلْمُ مَا نَفَعَ، لَيْسَ الْعِلْمُ مَا حُفِظَ “Ilmu itu adalah apa yang bermanfaat (diamalkan), bukan sekadar apa yang dihafal (atau diucapkan).” Khatib Al-Baghdadi rahimahullah juga menggarisbawahi: “Ilmu itu senantiasa memanggil amal. Jika amal itu menjawabnya (maka ilmu itu akan menetap). Namun jika tidak, maka ilmu itu akan pergi meninggalkannya.”

Faedah Menukik bagi Para Pendidik dan Penuntut Ilmu:

  • Ujian di Balik Karya dan Jabatan: Dalam dunia pendidikan, ujian terberat bukanlah saat kita menyusun kurikulum, memimpin lembaga, atau mencetak buku-buku tebal. Ujian terberatnya adalah saat karya dan kedudukan itu mulai dikenal. Jika saat itu kita merasa lebih mulia dari staf, merasa lebih pintar dari orang awam, atau enggan menerima kritik atas tulisan kita, ketahuilah bahwa ilmu itu sedang bermutasi menjadi racun kesombongan yang membunuh hati.
  • Menangisi Diri Sendiri: Ilmu yang berkah akan bertindak layaknya cermin pembesar. Semakin banyak ilmu yang dipelajari dan diajarkan, semakin terlihat jelas aib, kelemahan, dan dosa-dosa di dalam diri. Hal inilah yang membuat seorang alim sejati selalu menunduk tawadhu’, karena ia terlalu sibuk menangisi aibnya sendiri melalui kacamata ilmunya.

Saudaraku… Mari kita bersihkan kembali niat di dalam hati. Jangan sampai lelahnya pikiran dalam mengkaji, menyusun materi, dan membimbing umat di dunia ini justru dibalas dengan kehinaan di akhirat hanya karena setitik debu riya’ dan kebanggaan diri. Semoga Allah mengaruniakan kepada kita ilmu yang bermanfaat, yang mematahkan keangkuhan ego, dan menuntun lisan serta perbuatan kita menuju ridha-Nya. Aamiin. 🤲


By Abu Najieb (Santrilawu)