HARTA HALAL AKAN DIHISAB HARTA HARAM AKAN DIADZAB

25 Mei 2026 4 menit baca Tak Berkategori

BAHAYA HARTA MENGENDAP: MENDIDIK KELUARGA AGAR TIDAK MENYIMPAN “KOTORAN” BUMI

Saudaraku, kita sering kali mendidik keluarga kita untuk berhemat dan menabung demi masa depan. Namun, tanpa sadar, kita justru terkadang terjebak dalam kebiasaan menumpuk barang. Lemari pakaian penuh sesak, rak sepatu tak lagi muat, dan ruang penyimpanan di rumah dipenuhi barang yang bertahun-tahun tidak pernah disentuh.

Kutipan dari Az-Zuhd Al-Kabir ini adalah teguran keras yang meruntuhkan gaya hidup konsumtif kita. Kelebihan harta yang dibiarkan menganggur sementara di luar sana ada kerabat atau tetangga yang kesulitan, kelak akan berubah wujud menjadi “kotoran” dan beban hisab di Yaumil Qiyamah.

📌 Mari kita resapi kembali makna mendalam dari peringatan ini:

فضُولُ الدُّنْيا رِجْسٌ عِنْدَ اللهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، قِيلَ: مَا فُضُولُ الدُّنْيَا؟ أَنْ يَكُونَ عِنْدَكَ فَضْلُ رِدَاءٍ وَأَخُوكَ عَارِ، وَيَكُونَ عِندَكَ فَضْلُ حِذَاءٍ وَأَخُوكَ حَافِ.

“Kelebihan harta (yang lebih dari keperluan) kelak di hari kiamat di sisi Allah adalah sebuah kotoran (sesuatu yang menjijikkan/azab). Lantas ditanyakan: ‘Seperti apa gambaran kelebihan harta itu?’ Yaitu seperti: Kau memiliki banyak baju namun saudaramu kau biarkan telanjang, memiliki banyak sepatu namun saudaramu kau biarkan tanpa alas kaki.” (Az-Zuhd Al-Kabir lil Bayhaqi: 142/283)

3 Hantaman Dalil tentang Bahaya Menumpuk Harta:

  • 1. Al-Qur’an: Ancaman bagi Para Penimbun Harta Allah ﷻ memperingatkan dengan keras mereka yang gemar menumpuk kekayaan dan aset tanpa mengalirkannya ke jalan kepedulian sosial. وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ “Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.” (QS. At-Taubah: 34).
  • 2. Sunnah: Hakikat Kepemilikan yang Sebenarnya Rasulullah ﷺ menyadarkan kita bahwa dari sekian banyak barang yang kita klaim sebagai “milik kita”, sejatinya yang benar-benar menjadi hak kita dan mendatangkan manfaat hanyalah tiga hal. يَقُولُ ابْنُ آدَمَ: مَالِي مَالِي، وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلَّا مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ، أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ، أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ؟ “Anak Adam berkata: ‘Hartaku, hartaku.’ (Rasulullah bersabda): ‘Wahai anak Adam, tidakkah hartamu itu melainkan apa yang engkau makan lalu habis, apa yang engkau pakai lalu usang, atau apa yang engkau sedekahkan lalu engkau tinggalkan (pahalanya)?‘” (HR. Muslim no. 2958).
  • 3. Pemahaman Salaf: Hak Orang Miskin pada Pakaian yang Tertumpuk Banyak ulama salaf yang memiliki standar zuhud luar biasa: Jika ada pakaian di dalam lemari yang tidak tersentuh atau dipakai selama satu tahun penuh melewati pergantian musim, maka hakikatnya pakaian itu sudah bukan lagi milik sang tuan rumah, melainkan hak fakir miskin yang harus segera dikeluarkan.

Faedah Menukik Bagi Kurikulum Pendidikan Keluarga Muslim:

  • Membangun Karakter Anak Melalui Praktik “Audit Lemari”: Jejak asuh yang paling berkesan bagi anak-anak bukanlah ceramah teori yang panjang, melainkan keteladanan tindakan fisik. Jadikan kegiatan membersihkan dan mengaudit barang-barang di rumah sebagai agenda rutin keluarga. Ajarkan anak-anak untuk menyortir mainan, pakaian, atau sepatu yang sudah tidak muat. Katakan kepada mereka: “Nak, jika sepatu ini hanya diam di rak, ia tidak bernilai apa-apa dan hanya jadi beban hisab. Tapi jika kita berikan kepada anak yatim yang membutuhkan alas kaki, sepatu ini akan berlari mendahului kita ke surga.” Ini adalah praktik langsung pendidikan empati untuk mematikan sifat kikir sejak usia dini.
  • Keluarga Sebagai Saluran Air, Bukan Bendungan: Rumah tangga seorang mukmin harus didesain layaknya sebuah saluran air yang mengalirkan manfaat, bukan bendungan yang menahan air hingga akhirnya membusuk menjadi sarang penyakit. Pola pikir Esensialisme (hidup dengan apa yang benar-benar penting dan esensial saja) sangat sejalan dengan syariat Islam. Sebelum memutuskan untuk membeli pakaian atau barang baru bagi keluarga, cobalah hitung kembali berapa banyak barang layak pakai yang menumpuk. Mengalihkan alokasi dana konsumtif tersebut untuk pendidikan anak, bersedekah kepada kerabat yang terlilit hutang, atau mendukung operasional dakwah jauh lebih elegan dan akan menyelamatkan kehormatan kita di akhirat kelak.

Saudaraku, jangan jadikan rumah kita sebagai museum barang-barang mati yang kelak akan menuntut kita di hadapan Allah. Bebaskanlah ruang-ruang di dalam rumahmu, niscaya Allah akan meluaskan ruang pahalamu di surga.

Semoga Allah ﷻ membersihkan hati dan keluarga kita dari penyakit Hubbud Dunya (cinta dunia yang berlebihan), menjadikan kita hamba-hamba yang ringan tangan dalam berbagi, dan melindungi keluarga kita dari hisab harta yang memberatkan. Aamiin. 🤲

By Abu Najieb (Santrilawu) Pinggir Wiyono, S.Pd., M.Pd. Jika baik beritahu teman, jika buruk beritahu kami.