Bagian 2 Memelihara Anaka perempuan
BAGIAN KEDUA: TANTANGAN DAN ANCAMAN
Menjaga ‘Izzah (Kehormatan) di Tengah Fitnah Akhir Zaman
F. Realita Pahit: Kerusakan Anak Bermula dari Orang Tua
Seringkali kita menyalahkan zaman, menyalahkan lingkungan, atau menyalahkan teman bergaul anak. Namun, ulama besar Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah memberikan tamparan keras bagi para orang tua dalam kitabnya, Tuhfatul Maudud:
أكثر الأولاد إنما جاء فسادهم من قبل الآباء وإهمالهم لهم وترك تعليمهم فرائض الدين وسننه فأضاعوه صغاراً فلم ينتفعوا بأنفسهم ولم ينفعوا آباءهم كباراً
“Mayoritas anak-anak itu, kerusakan mereka datang dari pihak ayah mereka, karena kelalaian mereka terhadap anak-anaknya, dan karena mereka tidak mengajarkan kewajiban-kewajiban agama serta sunnah-sunnahnya. Mereka menyia-nyiakan anak-anak itu saat kecil, sehingga anak-anak itu tidak bisa memberi manfaat bagi diri mereka sendiri dan tidak pula bagi ayah-ayah mereka saat sudah tua.”
Poin Menukik:
“Berbuat baik” (Ihsan) kepada anak perempuan dalam hadis sebelumnya bukan sekadar membelikan baju bagus, memberi jajan enak, atau menyekolahkan di sekolah mahal.
Ihsan yang hakiki adalah menyelamatkan fitrahnya. Jika ayah sibuk mencari nafkah tapi membiarkan anak perempuannya membuka aurat di media sosial, membiarkan dia bergaul bebas (ikhtilat), maka sang ayah belum berbuat ihsan, melainkan sedang “menyerahkan” anaknya pada api neraka.
G. Ancaman Menjadi “Dayyuts”: Pintu Surga Tertutup bagi Ayah yang Tidak Peduli
Ini adalah peringatan terberat bagi para ayah yang memiliki anak perempuan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan ancaman keras bagi laki-laki yang hilang rasa cemburunya (ghirah) terhadap keluarganya.
Hadis:
Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah bersabda:
ثَلَاثَةٌ لَا يَنْظُرُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: الْعَاقُّ لِوَالِدَيْهِ، وَالْمَرْأَةُ الْمُتَرَجِّلَةُ، وَالدَّيُّوثُ
“Tiga golongan yang Allah tidak akan melihat mereka pada hari kiamat: Anak yang durhaka kepada orang tuanya, wanita yang menyerupai laki-laki (tomboy), dan Ad-Dayyuts.” (HR. An-Nasa’i no. 2562, dishahihkan Al-Albani)
Dalam riwayat lain:
ثَلَاثَةٌ قَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِمُ الْجَنَّةَ … وَالدَّيُّوثُ
“Tiga golongan yang Allah haramkan surga bagi mereka… (salah satunya) Ad-Dayyuts.” (HR. Ahmad)
Syarah (Penjelasan) Ulama:
Siapakah Ad-Dayyuts?
Imam Az-Zahabi dalam Al-Kaba’ir menjelaskan:
الَّذِي يَعْلَمُ الْفَاحِشَةَ فِي أَهْلِهِ وَيَسْكُتُ
“Yaitu lelaki yang mengetahui perbuatan keji (maksiat/pelanggaran syariat) pada keluarganya (istri dan anak perempuannya), namun ia diam saja (tidak ada rasa cemburu/mengingkari).”
Aplikasi Menukik di Zaman Ini:
Ayah masuk kategori Dayyuts jika:
- Tahu anak perempuannya keluar rumah tanpa menutup aurat sempurna, tapi dibiarkan.
- Tahu anak perempuannya dijemput laki-laki yang bukan mahram (pacaran), tapi malah “titip salam” atau mengizinkan.
- Tahu anak perempuannya memajang foto/video yang mengundang syahwat di internet (TikTok/Instagram), tapi ayahnya acuh tak acuh, bahkan bangga karena anaknya “viral”.
Maka, didiklah anak perempuan dengan rasa cemburu. Katakan padanya: “Nak, Ayah tidak rela satu inci pun kulitmu dinikmati mata laki-laki yang tidak halal. Ayah ingin masuk surga bersamamu.”
H. Menanamkan “Al-Haya'” (Rasa Malu): Mahkota Anak Perempuan
Di zaman di mana “urat malu” dianggap penghalang kesuksesan, Islam justru menempatkan malu sebagai cabang keimanan.
Hadis:
الْحَيَاءُ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ
“Rasa malu itu tidak mendatangkan sesuatu melainkan kebaikan semata.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Tugas Orang Tua:
Mengapa banyak anak perempuan saat ini kehilangan arah? Karena hilang rasa malunya.
- Dulu wanita malu jika suaranya didengar laki-laki asing. Sekarang wanita berlomba-lomba mendesah di depan kamera.
- Dulu wanita malu jika betisnya tersingkap. Sekarang wanita bangga memamerkan lekuk tubuhnya.
Mendidik anak perempuan “lebih menukik” berarti menanamkan standar ganda:
- Lemah lembut dalam bicara kepada orang tua.
- Tegas dan menjaga jarak (iffah) kepada lawan jenis.
Allah berfirman memperingatkan istri-istri Nabi (dan wanita mukminah):
فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ
“Maka janganlah kamu melembut-lembutkan suaramu (saat bicara dengan laki-laki non-mahram), sehingga bangkitlah nafsu orang yang ada penyakit dalam hatinya…” (QS. Al-Ahzab: 32)
I. Penutup: Doa dan Air Mata
Sebagai penutup kajian yang tajam ini, mari kita sadari bahwa hidayah itu milik Allah. Sekeras apapun usaha kita, tanpa doa, kita lemah.
Para Salafus Shalih tidak pernah berhenti mendoakan anak-anak mereka. Contohlah doa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam:
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ
“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat…” (QS. Ibrahim: 40)
Dan doa dalam surat Al-Furqan ayat 74:
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Kesimpulan Akhir:
Anak perempuan adalah sitar (penghalang) dari neraka. Namun ingat, penghalang itu harus kokoh. Jika didikan kita rapuh (tanpa agama, tanpa malu, tanpa adab), maka penghalang itu akan jebol, dan api neraka akan membakar orang tua bersama anak-anaknya na’udzu billahi min dzalik.
Semoga Allah mengokohkan pundak para Ayah dan melembutkan hati para Ibu dalam mencetak bidadari-bidadari surga dari rumah-rumah kita.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.