RESEP DARI LANGIT
Resep Penawar Hati (jalan menuju ikhlas) bermula dari tangisan ketakutan sahabat Mu’adz bin Jabal r.a. yang bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang bagaimana caranya agar bisa selamat dari tertolaknya amal di tujuh pintu langit. Menjawab jeritan hati tersebut, Rasulullah ﷺ dan para ulama salaf seperti Imam Al-Ghazali merumuskan beberapa resep Nabawi untuk membersihkan hati dan menjaga keikhlasan:
1. Meneladani Nabi (Iqtida’) Secara Utuh Rasulullah ﷺ memberikan jaminan keselamatan dengan cara meneladani beliau, meskipun amal ibadah kita dipenuhi kekurangan. Keselamatan tidak menuntut ibadah yang sempurna tanpa cela, melainkan keselarasan hati dalam mengikuti jejak Nabi ﷺ secara jujur. Allah memaklumi kekurangan fisik amal hamba-Nya yang lemah, karena yang paling dibenci-Nya adalah kepalsuan niat (riya’).
2. Puasa Lisan dan Menjaga Kehormatan Langkah esensial untuk menjaga amal adalah menahan lisan dari mencela atau menggunjing kehormatan saudara seiman, khususnya para pengemban ilmu agama (Hamilil Qur’an). Tindakan merobek-robek harga diri orang lain dengan lisan (Tamziq) diancam dengan hukuman yang setimpal, yaitu dicabik-cabik oleh anjing-anjing neraka kelak.
3. Memikul Kesalahan Sendiri (Cermin Diri) Seseorang harus berani memikul dosanya sendiri tanpa mencari kambing hitam atau melimpahkannya kepada orang lain. Rasulullah ﷺ melarang keras seseorang yang mensucikan atau meninggikan posisinya di hadapan manusia dengan cara menginjak dan mencela orang lain.
4. Memurnikan Amal dari Ambisi Duniawi Amal akhirat yang suci tidak boleh dicampuradukkan dengan kepentingan duniawi. Seseorang dilarang menjadikan ibadah sebagai alat untuk meraup kekayaan atau popularitas. Dalam pergaulan, seseorang juga dilarang bersikap angkuh di majelis hingga membuat orang lain waspada dan takut karena keburukan akhlaknya.
5. Terapi Melawan ‘Ujub (Bangga Diri) Untuk meraih ikhlas, kesombongan batin (‘ujub) harus dihancurkan. Rumus emas dari Imam Al-Ghazali adalah selalu memandang orang lain lebih baik dari diri kita sendiri:
- Saat melihat orang tua: Sadarilah bahwa mereka telah beribadah dan sujud kepada Allah jauh lebih dulu daripada kita.
- Saat melihat anak kecil: Yakini bahwa lembar amal mereka masih suci karena belum bermaksiat, sedangkan kita sudah berlumuran dosa.
- Saat melihat orang bodoh: Pahami bahwa mereka bermaksiat murni karena ketidaktahuannya, sementara kita bermaksiat dengan bekal ilmu yang menjadikan hisab dan tuntutan kita di hadapan Allah jauh lebih berat.
- Saat melihat orang alim: Akuilah keutamaan ilmu dan derajat yang telah Allah karuniakan kepadanya yang tidak kita miliki.
- Saat melihat orang kafir: Ini adalah ujian kerendahan hati terberat. Jangan memvonis, karena akhir hayat (khatimah) adalah misteri. Bisa jadi kelak ia masuk Islam dan diwafatkan dalam kebaikan (husnul khatimah), sementara kita tergelincir dan mati di atas kekufuran. Rasa takut akan su’ul khatimah (akhir yang buruk) adalah kunci mengikis kesombongan.
6. Memiliki Amal Rahasia (Khabiah) Langkah pamungkas merawat ikhlas adalah dengan memiliki khabiah, yaitu amalan shalih yang sangat rahasia dan disembunyikan rapat-rapat, sehingga hanya Allah saja yang mengetahuinya. Sedekah atau ibadah sembunyi-sembunyi ini memiliki kekuatan luar biasa untuk memadamkan kemurkaan Tuhan dan menjaga kemurnian tauhid.