TERTIPU DUNIA
Bahaya tipuan dunia adalah salah satu penyakit hati yang paling membinasakan, di mana seseorang tertipu oleh kemewahan, pujian, dan kedudukan fana, sehingga menjadikan agama dan ibadahnya sebagai alat untuk meraih keuntungan duniawi. Makalah ini, yang bersumber dari pemikiran Imam Al-Ghazali dan para ulama Salaf, membedah secara menukik bagaimana tipuan dunia ini merusak amal dari dalam:
1. Ilusi Kesalihan dan “Casing” Ibadah Manusia di akhir zaman seringkali tertipu karena terlalu sibuk membaguskan “casing” (penampilan luar) ibadah, seperti merapikan barisan shalat dan memperindah bacaan Al-Qur’an, namun lalai merawat hatinya. Kita sering merasa aman dan merasa sedang mengumpulkan pahala setinggi gunung, padahal di mata Allah amal tersebut hanyalah debu karena tercemar oleh Mura’atun Nas (beramal demi mencari perhatian dan penilaian manusia).
2. Tragedi Pintu Langit Kedua: Tertolaknya Amal karena Harta dan Status Dalam hadits tentang perjalanan amal yang diriwayatkan oleh Mu’adz bin Jabal r.a., dijelaskan bahwa ada amal yang cahayanya bersinar terang seperti matahari, namun ditolak mentah-mentah di Langit Kedua. Malaikat penjaga pintu tersebut (Malaikat Fakhr) melemparkan amal itu kembali ke wajah pelakunya karena niat aslinya adalah demi ‘Aradhud Dunya (harta benda dunia). Pelaku amal tersebut beribadah hanya untuk membanggakan kekayaan dan status sosialnya di majelis-majelis, sehingga ia termasuk dalam golongan “hamba dinar dan dirham” yang celaka.
3. Riya’ dan Cinta Kedudukan (Hubbul Jah) Tipuan dunia yang paling halus adalah Riya’, yang disebut oleh Imam Al-Ghazali sebagai Syirik Khafi (Syirik yang Samar). Riya’ lahir dari Hubbul Jah (Cinta Kedudukan), yaitu hawa nafsu yang mendorong seseorang untuk mencari posisi istimewa di hati manusia agar dihormati. Ulama Salaf, Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah, memberikan penjelasan yang sangat tajam mengenai hal ini: “Meninggalkan amal karena manusia adalah Riya’, dan beramal karena manusia adalah Syirik. Sedangkan Ikhlas adalah Allah menyelamatkanmu dari keduanya.”.
4. Tragedi Para “Aktor” Agama dan Ulama Su’ Banyak penuntut ilmu dan ahli ibadah tanpa sadar menjadi “aktor” di panggung agama. Hadits Nabi ﷺ secara tegas memperingatkan bahwa manusia pertama yang akan diseret ke neraka justru bukanlah pemabuk atau pezina, melainkan:
- Orang yang mati syahid (karena ingin disebut pahlawan/pemberani).
- Ulama/Qari’ (karena ingin disebut ahli ilmu/pembaca Al-Qur’an).
- Dermawan (karena ingin disebut dermawan). Niat mereka telah “terbayar lunas” dengan pujian dan gelar dari manusia di dunia, sehingga di akhirat mereka sama sekali tidak memiliki bagian (bangkrut). Teks ini juga memperingatkan bahaya Ulama Su’ (ulama dunia) yang memasukkan amal dunia ke dalam amal akhirat; menggunakan atribut agama untuk mencari proyek, kekuasaan, atau memeras umat.
5. Dunia Hanyalah Jembatan Sebagai penawar dari tipuan ini, kita diingatkan pada wasiat Rasulullah ﷺ kepada Ibnu Umar: “Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan orang asing atau seorang pengembara.”. Dunia diibaratkan sebagai jembatan yang hanya untuk dilewati, bukan untuk dibangun istana di atasnya. Siapa yang menjadikan akhirat sebagai alat untuk mengejar dunia, ia akan kehilangan kedua-duanya.