WONG NIKAH JEMBAR REZEKINE

10 April 2026 3 menit baca Tak Berkategori

GELAS BOCOR DI TENGAH LAUTAN: MENGAPA EKONOMI (SELALU) JADI KAMBING HITAM PERCERAIAN? 🥃🌊💔

Saudaraku, mari kita bedah sebuah ketakutan yang sering menghantui para pemuda untuk melangkah ke pelaminan, sekaligus badai yang paling sering meruntuhkan tiang rumah tangga di zaman ini: Urusan Rezeki.

Sering kali kita mendengar nasihat, “Jangan takut menikah karena rezeki sudah diatur.” Namun, realita di Pengadilan Agama justru menampilkan fakta yang seolah kontradiktif: Kasus perceraian terbanyak hari ini terjadi karena alasan himpitan ekonomi.

Jika janji Allah itu pasti, lalu mengapa ekonomi bisa menghancurkan begitu banyak pernikahan?

Jawabannya bukan karena Allah ingkar janji, dan bukan pula karena rezeki yang diturunkan itu kurang. Masalah utamanya ada pada “wadah” penerimanya. Bayangkan sebuah gelas yang alasnya bocor. Meskipun engkau mencelupkan gelas itu ke tengah lautan yang luas, air di dalamnya tidak akan pernah penuh.

📌 Dengarkanlah janji agung Allah ﷻ yang menggaransi rezeki bagi mereka yang berani melangkah membangun keluarga:

وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ ۚ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” > (QS. An-Nur: 32)

Lalu, apa yang membuat garansi “dimampukan” ini seolah tidak terasa? Jawabannya ada pada sabda Rasulullah ﷺ:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Kekayaan (yang hakiki) bukanlah dengan banyaknya harta benda. Namun kekayaan (yang hakiki) adalah kekayaan jiwa (hati yang selalu merasa cukup).” (HR. Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051)

3 Renungan Melapangkan Dada di Tengah Himpitan Ekonomi:

  • 1. Kebutuhan Hidup vs Tuntutan Gaya Hidup: Ketahuilah, janji Allah untuk “memampukan” keluarga adalah garansi untuk memenuhi biaya hidup (makan, minum, pakaian, tempat berteduh). Masalahnya, banyak pasangan suami istri yang bercerai bukan karena kelaparan tidak bisa beli beras, melainkan karena tidak sanggup membiayai gaya hidup (cicilan mobil, gengsi skincare mahal, handphone terbaru, atau liburan demi konten). Allah menanggung rezekimu, bukan gengsimu.
  • 2. Bencana Pintu Syukur yang Tertutup Rapat: Semua kebahagiaan rumah tangga itu murni tergantung pada bagaimana cara sepasang suami istri bersyukur. Saat pintu syukur ditutup rapat-rapat, maka walaupun sepenuh bumi emas diberikan kepadanya, ia tak akan pernah merasa cukup! Istri akan terus menuntut, suami akan terus merasa direndahkan. Tanpa syukur, istana megah akan terasa seperti penjara yang pengap.
  • 3. Menundukkan Pandangan ke Bawah: Rasulullah ﷺ memberikan resep anti-perceraian karena ekonomi: “Lihatlah orang yang berada di bawah kalian, dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian…” (HR. Muslim). Berhentilah membandingkan suamimu dengan suami influencer di Instagram. Berhentilah membandingkan rumah kontrakanmu dengan rumah mertuamu. Syukuri sepiring nasi yang masih bisa kalian makan berdua hari ini sambil tersenyum.

Saudaraku… Jangan pernah takut menikah karena alasan miskin, namun takutlah jika engkau menikah dengan seseorang yang tidak memiliki sifat Qana’ah (merasa cukup). Maka, sebelum engkau menuntut tambahan rezeki yang lebih besar, perbaikilah terlebih dahulu bagaimana caramu bersyukur kepada-Nya atas rezeki yang sedikit.

Semoga Allah mengaruniakan kita hati yang selalu rida dengan pembagian-Nya, memberkahi setiap butir keringat para suami yang mencari nafkah halal, dan menjadikan rumah tangga kita sebagai surga sebelum Surga yang sesungguhnya. Aamiin. 🤲


By Abu Najieb (Santrilawu) Pinggir Wiyono, S.Pd., M.Pd. Jika baik beritahu teman, jika buruk beritahu kami.